Minggu, 13 Agustus 2017

Dendrobium smilliae pink


Dendrobium smilliae pink

Saat pulang ke kampung suami di Friwen, distrik Waigeo Selatan di kabupaten Raja Ampat Papua Barat saya melihat anggrek dendro ini. Melihat dari bentuk daunnya, saya bisa katakan anggrek ini bergenus dendrobium. Setelah saya merambah dunia maya saya temukan nama latinnya Dendrobium smilliae. Ada 2 warna bunganya, putih dan pink. Yang saya temui di Friwen berbunga pink dan kondisi kuncup. Anggrek ini jenis epifit, yang tumbuh pada pohon.

 

Rabu, 06 Januari 2016

Perjalanan ke Syukwes




Malam telah tiba kami berkumpul di gereja pukul 09.00 WIT. Saat itu juga barang- barang keperluan ke dusun pun sedang dikemas. Sebelum berangkat kami absen dan kira- kira berjumlah 44 orang yang berangkat dari Sorong Kota. Jam menunjukkan 10.30 malam WIT dengan 1 truk dan beberapa pick up, kami menuju Makbon. Dari Makbon kami menuju Sausapor dengan perahu kayu. Perjalanan  laut yang cukup lama, membuat kami lelah secara fisik. Tapi semua serasa sirna melihat indahnya laut dan lumba- lumba di pagi hari bercanda ria di laut lepas yang kami lalui. Sausapor tempat melepaskan kejenuhan kami terombang- ambing di laut lepas. Lajut jalan darat dengan truk karena ombak dan kondisi motor kapal kayu kami tidak memungkikan membawa bayak penumpang. Hanya barang- barang kami dan ketua pelaksana yang melanjutkan perjalanan laut ke Muara Kwoor. Sesampai ke Muara Kwoor kami sudah disambut bapak Hans Membrasa dan teman- teman. Dari Muara Kwoor kami menelusuri sungai Kwoor dengan long boat. Sungguh indah dan dedekan juga loh, untuk pertama kali saya naik long boat melintasi sungai yang besar. Sungai dengan arus yang cukup deras, kanan- kiri hutan. Syukur pada Tuhan perjalanan menelusuri sungai ini saya nikmati, bagaimana tidak nikmat. Hijau membentang di kanan- kiri kami dan  kicau suara burung- burung. Semua menyatakan kebesaran Tuhan, ciptaannya yan indah. Kami team long boat ke-2 sempat melintasi hutan dahulu, karena boat kami akan menjembut barang- barang bawaan kami. Melintas hutan mungkin kira- kira 8 km, melewati semak, pohon bahkan ular penghuni hutan sempat ditemui kawan kami. Daun gatal tumbuhan hutan sempat tersentuh kaki- kaki kami. Rasa pedih di kaki kami tidak membuat kami berhenti menelusuri hutan hingga sampai di tepian sungai lagi. Woo dasyat Tuhan, kami disajikan pemandangan yang indah lagi di tempat peristirahat sejenak kami. Sambil menunggu long boat menjemput kami toek melanjutkan perjalanan ke Syukwes, kami bermain air menghilangkan penat. Akhirnya jemputan tiba dengan 2 long boat kami lanjutkan perjalanan. Sampailah di desa Syukwes pukul 6.30 menjelang malam WIT. Baru keesok harinya kami jalankan pelayanan kami di desa ini. Pemeriksaan THT (Tenggorokan Hidung dan Telinga) untuk orang tua dan anak- anak, yang dilaksanakan oleh dokter Titus dan team. Bersama team pengasuh sekolah minggu dan pemuda gereja kami, anak- anak kami ajak bernyanyi, mendengar cerita natal dan berkreativitas. Saat itu menjelang natal jadi adik- adik kami ajarkan membuat hiasan natal, yang dipakai untuk dekorasi gereja di desa ini. Sore harinya kami kembali gereja mengikuti perjamuan kudus yang dilayani ibu Pendeta kami. Malam hari lanjut ibadah perayaan natal 2015 dan makan malam bersama, acara hingga larut malam. Kami harus segera memejamkan mata agar segar kembali untuk pulang ke Sorong di subuh hari. Ya, kami dengan 4 long boat kembali menelusuri sungai Kwoor menuju muaranya. Secara berkelompok kami kembali ke Sorong, tetap transit kembali di Sausapor. Dengan kapal kayu yang sama kami kembali ke Sorong melalui Makbon juga. Jam 6.30 jelang malam kami berangkat dari darmaga Sausapor, samapi di Makbon pukul 10.00 malam. Bongkar muat barang memakan 1 jam, kami pun dalam melajutkan perjalanan di malam itu pukul 11.00 WIT. Tiba di kota Sorong pukul 01.00 dini hari. Terima kasih Tuhan hadiah natalmu, perjalanan ke desa Syukwes, Distrik (kecamatan) Kwoor, Kabupaten Tambrow. Papua aku datang, ini aku utuslah Aku.
Melihat indahnya laut dan lumba- lumba (tidak terliput) di pagi hari bercanda ria 

Sausapor tempat melepaskan kejenuhan kami.
Muara Kwoor


Melintas Sungai Kwoor
Sungai Kwoor
Hutan yang kami lalui

Pemandangan yang indah lagi di tempat peristirahat sejak kami
Tepian sungai pintu masuk ke Syukwes



Jumat, 01 Januari 2016

Kembang Sungsang

(Gloriosa superba)


Kembali ke koleksi tanaman hias tropis Kembang Sungsang, yang berasal dari Asia dan Afrika. Bentuk daunnya lanset, pangkal serta ujungnya runcing dan berwarna hijau. Bunganya berdiri sendiri disamping daun. Kuncup bunganya berbentuk bulat memanjang, bertangkai panjang, bagian ujungnya runcing menghadap kebawah. Bila mekar bunganya akan membalik ke atas. Mahkotanya yang keriting dan berjumlah 6, helainya berwarna merah pada bagian atasnya, sedangkan pangkalnya berwarna hijau kekuningan. Lama- kelaman mahkota bunganya akan berwarna merah keseluruhan dan tidak mudah layu. 


Tanaman merambat ini, menyukai tempat terbuka yang terkena sinar matahari penuh seperti tanaman hias bunga lainnya. Biasa digunakan sebagai tanaman pergola dan pagar rumah.  Kembang sungsang berkembang biak dengan umbi dan biji. Bunga yang cerah menarik hati dan bentuknya yang unik, saya temukan saat berjalan di perumahan daerah Sorong kota. Berkembang biak generatif dengan biji dan vegetatif dengan umbi.

Senin, 14 Desember 2015

Indonesian Tall Ginger

Rias- Indonesian tall ginger (Eltingera elatior)




Rias sudah dikenal kami orang batak sebagai bumbu dapur. Biasa kuncup bunganya dipakai bumbu arsik ikan mas, batang muda rias yang berwarna merah muda dipakai campuran sambal. Kami orang batak menyebutnya sambal rias. Saat saya berkerja di Bogor, kami produksi bunganya sebagai bunga potong. Karena memang indah warna bunganya, merah muda dan akan cendrung memerah jika sudah lama. Masa hidup bunga potongnya bisa lebih dari satu minggu atau lebih jika disimpan dalam vas dengan media air.


Di Jawa Barat bunga rias, dinamai honje sedangkan  di Jawa barat Combrang. Sebagian di Jawa mengenal dengan nama Kecombrang. Rias ini masuk ke dalam keluarga jahe- jahean (Zingiberaceae). Saya berbagi foto Rias/ Honje/ Kecombrang yang saya ambil di daerah Tobasa, Sumatera Utara. Kita dapat menemukan tanaman ini hampir di seluruh Indonesia. Alat perkembangbiaknya dengan rhizom atau rimpang (akar tinggal). Tanaman ini adalah tanaman tropis, hidup liar di hutan- hutan tropis. Jika akan dijadikan pengisi taman rumah sebaiknya ditanam di halaman belakang. Karena  sifatnya yang menyemak, hidup berkelompok dan tingginya dapat mencapai 5 meter. Dapat dijadikan pagar halaman belakang rumah.


Senin, 23 November 2015

Bunga Pukul Sembilan

Portulaca grandiflora


Satu lagi tanaman tropis yang saya akan perkenalkan, mudah dalam perawatannya. Bunga pukul sembilan, begitulah orang Sorong memyebutnya. Karena bunga ini mekar sekitar pukul 9 pagi dan sore hari atau matahari menghilang bunga pun menguncup. Jika di Jakarta dan sekitarnya kami menyebut sutra bombay atau portulaka. Bunga ini tanaman hias sebagai penutup tanah (groud cover), menyukai matahari langsung atau tanpa peneduh (full sun). Dapat beradaptasi di dataran rendah dan tinggi, kondisi tanah yang berpasir. Bagi yang mau menikmati bunga indah, tapi tidak punya waktu luang merawat secara intensif, dapat memilih tanaman ini untuk mempercantik pekarangnya. Bagi pencinta bunga dan tanaman hias yang tinggal di dataran rendah seperti kota Sorong dapat menikmati indahnya bunga pukul sembilan ini juga loh. Yakinlah tidak merepotkan, bunga pukul sembilan dapat beradaptasi baik di kota Sorong.

Double petal (bunga mekar saat 9 pagi)

Bunga menguncup saat sore hari

Warna bunga pukul sembilan beragam. Diantaranya ada yang putih, ungu, merah muda, pink fanta, kuning, dan orange. Mahkota bunganya ada yang berlapis satu (single petal) dan berlapis dua (double petal). 


Double petal bunga merah muda

Single petal bunga pink fanta

Single petal bunga kuning



Kamis, 19 November 2015

Dish Plant


Dish Plant adalah rangkaian tanaman dalam piringan atau pot. Saya kembali bekarya dengan sarana (media tanam, pot dan asesoris) dan tanaman yang kami miliki. Inilah karya kecil saya, selamat menikmati. Asesoris sebagai pemanis dish plant saya gunakan kerang yang kami kumpulkan dari pantai dekat rumah kami. Selain itu ada batu yang kami ambil dari pekarangan rumah. Sorong memiliki pasir dengan kandungan batu yang cantik, tidak saya temukan sewaktu di Jawa. 
  
Komposisi: Patah tulang, portulaka, umbi bunga jarum











Komposisi: kucai mini, episia dan adenium
Komposisi: kucai mini dan umbi bunga jarum

Senin, 09 November 2015

Bunga Jarum (Scadoxus multiflorus)


Yuhuu, welcome to Sorong. Memang anak horti sekali deh kamu, ini julukan teman-teman kepada saya. Tiba di suatu tempat yang diamat- amati pasti tanaman hias..Setelah menjelang 3 minggu di Sorong kembali menulis lagi. Karena ada bunga cantik yang menarik hati saya. Pas juga bertemu teman- teman yang suka bercocok tanam..Ternyata tanaman hias di Jawa samalah dengan di Sorong ini. Kagum deh, lihat rumah yang halamannya penuh tanaman hias. Tapi sayang RTH (Ruang Terbuka Hijau) area jalan  minim di Sorong ini..Ahh, jadi curhat saya. Baiklah saya mau berbagi foto- foto dan sedikit narasi tetang bunga jarum. Di Jawa tanaman ini biasa disebut bunga Desember dengan nama latin Haemanthus multiflorus. Saya akan sebut bunga jarum sesuai di mana saya saat ini berada.
 
umbi sudah berbunga
Bunga jarum adalah tanaman tropis, berkembang dengan umbi. Menurut teman yang sudah merawatnya. Umbi pada awalnya tidak akan menghasilkan bunga, tetapi daun dahulu. Pada ukuran tertentu, saat ukuran optimal (umbi dewasa) siap berbunga. Umbi yang sudah pernah berbunga akan berbunga dahulu, kemudian diikuti bertumbuhnya daun. Seperti tanaman hias lain yang berumbi, ada masa umbi istirahat atau dorman saat musim kering. Masa dorman itu, di mana umbi tidak berdaun apalagi berbunga. Saat musim hujan tiba sekitar November- Desember bunga jarum yang umbinya sudah dewasa akan berbunga. 
umbi belum berbunga


 Bunga jarum ini biasa batangnya yang seperti pelepah dapat dijadikan umpan memancing dan obat luka bakar. Saat umbi berbunga dan kemudian berdaun jangan biarkan media terlalu berair, media yang poroslah tepat toek hidupnya. Jika terlalu berair umbi akan busuk.